Sepi Sahabatku
Ternyata sepi adalah sahabat setiaku
Sepi sahabatku telah mengajarkanku tentang banyak hal
Dalam sepi aku merenung
Dalam sepi aku menangis
Dalam sepipun aku dapat tersenyum
Bersama sepi aku berfikir
Bersama sepi aku memupuk angan
Bersama sepi aku memupuk cita
Dan bersama sepi aku dapat bersujud
Mengadukan segala resah hati keharibaanNya
Memohon ampunan, mengucap syukur
Mengadu pada Nya, memohon sinar kasih Nya
Ternyata .....
Sepiku bukan ber arti sendiri
Begitu banyak yang dapat kukerjakan bersama sepi
Dan menangis dikala sepi adalah satu kejujuran untaian hati
Dimana dapat kusadari kebahagiaan yang terlewat
Juga dapat ku yakini kebahagiaan kan kembali datang
Sepi ku telah banyak bercerita
Tentang segala yang tersirat...
Dan segala yang kudamba
Disini...dikamar ini aku berteman sepi
Namun aku masih bisa mendengar ...
Pintu jendela yang terbuka dan tertutup
Kidung sunyi binatang malam
Dan sapuan angin
Seakan berbicara...
Menjadi saksi...
Atas semuanya terjadi dalam sepiku
Bagaimana telah ku habiskan waktu
Bejalan melangkahkan kaki mengukir hari
Berteman sepi dibawah tatapan langit malam
Yang akan menjelma menyapa pagi
Sepiku mengatakan...
Tiada yang abadi didunia ini
Lihatlah malam yang berganti pagi
Rasakan perjumpaan yang pasti diahiri perpisahan
Dan....
Hidup didunia ini tak akan lama
Sepiku mengingatkan...
Bersiaplah...
Sepikupun bertanya
Sudah siapkah aku ?

. Marah itu merupakan salah satu emosi manusia yang sepenuhnya bersifat normal , sehat dan manusiawi.Di satu sisi kita perlu melepaskan semua amarah yang ada dlm diri kita agar kita bisa merasa lega, terlepas dr beban berat. Namun disisi lain tentu saja kita harus bertindak bijak dalam mengungkapkan kemarahan tersebut agar tidak merugikan orang lain bahkan diri sendiri.Dengan kata lain kita harus mampu mengendalikan kemarahan tersebut sebelum kemarahan itu justru yang mengendalikan hidup kita
, orang tua membunuh anaknya sendiri
, anak kandung membunuh/menganiaya orang tuanya hanya karna masalah yang sepele.Inilah yang disebut marah yang tidak sehat karna pada kondisi yang salah, tempat yang salah, dan cara yang salah. Orang yang memendam amarahnya juga salah, semakin lama amarah dipendam dan semakin menumpuk itu juga ga sehat. Bisa-bisa stress sendiri
dan akhirnya berujung pada penyaluran amarah yang salah.
sama kelakuan si adek yang 'nakal'. Alhamdulillah... meski marah Bapak sudah ga "BENTAK-BENTAK" dan meledak-ledak lagi kayak dulu. Ya pada akhirnya Bapak menyadari dan berpetuah sama aku bahwa marah yang diungkapkan dan dimusyawarahkan secara baik-baik InsyaAlloh akan berdampak baik pula. Dan si anak tidak merasa sebagai 'terdakwa' yang sepenuhya salah.Mungkin juga kan kesalahan si anak secara tidak langsung adalah dari salah satu kesalahan orang tua. Mungkin kurang diperhatikan?. Padahal aku tahu bapak tuh maraaaaah sekali sama si adek 
lucu juga, ra sida nesu lah (ga jadi marah). Sakjane aku yang salah, kenapa pake keyword marah, nah.. setelah pake keyword "angry" baru dah ketemu
. Nah, buat komentator-komentator usahakan kalo ngoment tuh mbok jangan marah-marah ntar cepet tua + tambah jelek loh............. *kayak yang diatas itu low 






